Ini Bukan Soal Jakarta Yang Lamban Berubah, Tapi Kita Yang Enggan Tergugah

Apakah Jakarta semakin menua dan tak lagi sanggup menina-bobokan kita hingga nyenyak? Apakah Jakarta sudah renta sehingga kita terpaksa mengais-ais sisa tenaganya? Tidak, Jakarta belum semenyedihkan itu. Jakarta masih dan akan terus tumbuh, kuat dan kian tegar menampung orang-orang yang apatis dan egosentris.

Di usianya yang akan menjadi setengah abad dalam delapan tahun ke depan, Jakarta merupakan kota yang sudah melewati fase matang. Fase pertumbuhan dan transformasi yang sudah dijejali ke perut Jakarta ini tengah melalui proses penceranaan. Hasil dan manfaatnya walau lambat namun tetap berarti untuk kita – para penduduk Jakarta.

Berbicara tentang penduduk Jakarta, artinya berbicara tentang jutaan orang yang berjibaku setiap harinya. Bukan hanya tentang mereka yang ber-KTP Monas, tetapi mereka yang juga berdesakkan setiap pagi dan sore hari. Menyambangi rezeki. Jakarta kian padat, penduduknya yang kian giat menggali Jakarta. Membuat Jakarta semakin mahal dan tak lagi terjangkau untuk warganya sendiri.

Ya! Keterjangkauan atau affordability di Jakarta telah berubah menjadi barang mewah. Mengapa demikian? Karena faktanya, lebih banyak warga Jakarta yang mendamba keterjangkauan dibandingkan yang tidak. Faktanya setiap kali ada midnite sale atau diskon sepatu branded murah, selalu padat pengunjung.

Faktanya lagi, hanya kurang dari 45% orang di Jakarta yang mampu memiliki rumah sendiri. Sisanya? NGONTRAK! Faktanya lagi, akan nyaris mustahil menemukan harga rumah di bawah Rp300 juta di Jakarta. Ini adalah deretan fakta yang sesungguhnya bukan lagi menyoal kondisi Jakarta, tetapi kondisi mereka yang ada di Jakarta – kita yang terlena. Nyaris lupa untuk mengimbangi kenyataan dan impian.

status kepemilikan rumah jakarta

Jakarta – maksud saya orang-orang Jakarta sudah sepatutnya mulai beralih-pikir ke gaya hidup yang lebih praktis. Bukan lagi menganggap hidup di Jakarta dengan rumah berhalaman luas menjadi sebuah impian paling luhur. Orang-orang zaman now sudah saatnya tergugah dan memilih hunian vertikal sebagai sarana pemenuhan kebutuhan papan.

URBANtown hadir untuk memenuhi kebutuhan hunian vertikal terjangkau untuk Jakarta. Untuk menolong Jakarta dari kepadatan yang kian menyesakkan. URBANtown dikembangkan dengan konsep keterjangkauan yang cocok untuk semua kalangan. Berlokasi yang membuat para pemiliknya mudah keluar-masuk pusat kota, URBANtown merupakan hadiah terbaik untuk Jakarta, untuk kita semua.

Advertisements

Apa Negara Paling Dermawan, Baik Hati, dan Gemar Menolong di Dunia? Indonesia!

Well, buat saya ini bahkan sangat mengejutkan! Bagaimana tidak? Untuk ketiga kategori tersebut, Indonesia adalah yang terbaik. Bagaimana bisa di dunia ini ada negara yang penduduknya begitu baik? Yang penduduknya paling dermawan, paling gemar membatu satu sama lain, dan paling baik hati sekaligus?

Jika bukan karena kekayaan kultur yang turun-temurun, lantas karena apalagi? Indonesia nyatanya lebih baik dari Australia, Inggris, bahkan Amerika Serikat. Ada tiga kategori yang dijadikan penilaian dalam survey tersebut, adalah persentase penduduk suatu negara untuk menolong orang asing, kedua menyoal kegemaran memberikan donasi, dan terakhir waktu yang diberikan untuk kegiatan sosial.

Ketiga kategori tersebut kemudian dikalkulasikan untuk mendapatkan rasio khusus. Rasio yang menjadi World Giving Index atau Indeks Memberi di Dunia. Indonesia, negara berkembang dari Asia Tenggara mamu mengungguli puluhan negara maju dan berkembang lain untuk menduduki peringkat pertama dalam survey tersebut.

Ya! Nyatanya memang demikian. Keramah-tamahan Indonesia yang sudah termasyhur dilegitimasi dengan hasil survey ini. Bahwa kita – orang Indonesia bukan hanya gemar melempar senyum dan sapa, tetapi juga hobi memberi dan membantu sesama. Ini adalah hal yang luar biasa. Ini merupakan sumber daya dan potensi besar untuk membawa bangsa ini kian besar.

indonesia, most giving country

Konsep saling memberi ini yang sedikit banyak menjadi inspirasi URBANtown dalam mengembangkan proyek-proyeknya. Berbekal fasilitas URBAN Bizhub, semangat saling berbagi mendapatkan perhatian khusus. Mereka yang nantinya menjadi user aplikasi ini akan dapat menikmati hidup dengan lebih mudah. Karena aplikasi ini akan menghubungkan apa saja yang kamu cari di lingkungan terdekat.

User URBAN Bizhub juga bisa menjadikan platform ini sebagai sarana promosi usaha mandiri. PT PP Urban sebagai developer URBANtown juga akan memfasilitasi para penggunanya dengan fasilitas training dan seminar kewiarausahaan, gedung serbaguna, aplikasi jual-beli antar penghuni, sampai fasilitas pendanaan lunak yang berasal dari dana hibah dan CSR berbagai instansi.

Ini Alasan Mengapa Punya Rumah Di Jakarta Memang Hanya Mimpi

Sebuah survey menunjukkan fakta bahwa pendapatan rata-rata para milenial di Jakarta atau kota-kota besar berada di kisarang angka Rp6 juta sampai Rp7 jutaan per bulan. Ini bisa jadi merupkana sebuah prestasi, bagi sebagian yang baru merasai dinamisnya dunia kerja, serunya menjejaki karir, dan menjadi seorang professional.

Namun, pada saat yang sama, ini merupakan sebuah delusi yang hampa-asa. Mengapa demikian? Karena kebanyakan angkatan kerja tersebut, belum mampu menempatkan masa depan secara proporsional. Mereka yang lazim kita sebut sebagai milenial, mengutamakan kehidupan sosial dan gaya hidup sebagai sebuah hal yang begitu penting. Lebih penting dibanding usaha untuk memiliki hunian sendiri.

9.png

Ini adalah ironi. Karena mau tidak mau, jika paradigma itu terus mengakar, akan makin sedikit para pekerja di kota-kota besar yang mampu memiliki rumah sendiri. Seperti studi yang dirilis oleh URBANtown by PT PP Urban, tentang status kepemilikan rumah atua hunian di Jakarta, menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari jumlah hunian di Jakarta berstatus sewa atau sejenisnya.

Ada lebih dari 56% hunian di Jakarta yang statusnya bukan dimiliki oleh penghuninya. Variasianya beragam, paling banyak didominasi oleh status sewa/kos/kontrak. Sisanya ada yang berstatus rumah dinas, rumah keluarga/rumah bersama dan lain sebagainya. Fakta ini sangat mungkin untuk berubah beberapa tahun mendatang. Angka kepemilikan rumah akan semakin menurun seiring dengan kenaikan harga properti yang tinggi.

Kanaikan harga hunian yang tidak mampu diimbani dengan kenaikan pendapatan warganya. Kalau kita berani ambil asumsi harga hunian paling terjangkau di Jakarta adalah Rp350 juta, dengan rata-rata gaji para first worker adalah Rp7 juta, ini sama saja dengan memupuk angan dan mimpi untuk memiliki hunian sendiri di Ibukota. Jadi, ngontrak for lyfe, uh?

Lelah Dengan Isi Lini Masa Yang Isinya Politik Melulu? Ini Inti Masalah Kita Sebenarnya

Siapa yang mulai jengah dengan lini masa di sosial media yang mulai tidak menyenangkan lagi untuk dinikmati? Siapa yang rasanya lelah dengan berkeliarannya konten-konten beruara negative yang isinya sangat pantas dipertanyakan? Atau siapa yang malah sudah memutuskan untuk mesenyapkan beberapa akun kerabat yang sudah ‘mulai berubah’?

Isu pencitraan, hoaks, persekusi, penistaan, saling hujat, dan membenarkan kelompok masing-masing memang sudah saatnya berseliweran di jagad dunia maya. Hal ini tidak bisa kita kendalikan sendiri. Karena Google – katakanlah sebagai Sang Empunya Internet, memang sudah lama memiliki mekanisme untuk mengumpani lini masa kita dengan hal-hal yang populer (dan sesuai dengan interest kita).

Kalau boleh mengambil kesimpulan sederhana, semua diskusi tak bertuan ini pada dasarnya berujung pada satu muara yang sama. Adalah soal kesejahteraan dan kemandirian ekonomi setiap orang. Karena siapapun pemimpin kita nanti, hal yang paling utama adalah yang mampu mengakomodasi kebutuhan kita sebagai rakyat. Kebutuhan jasmani dan rohani.

Menyoal kesejahteraan, berarti berbicara tentang kebutuhan primer setiap individu. Bagaimana kita semua dituntut untuk mampu memenuhi sandang, pangan, dan papan dalam satu waktu. Bagaimana caranya agar pemenuhan di luar tiga hal itu, seperti kebutuhan gaya hidup, sosilasisai, eksistensi diri dan lingkungan, tetap terjamin kehadirannya.

Konnikova-Politics-Personalities

Bagaimana jika ada konsep ekonomi terbaru yang memungkinkan kamu untuk mendapatkan semua kebutuhan itu dalam satu usaha sederhana? Bukan kah itu brilian? Nyatanya sekarang ada! URBANtown yang dikembangkan oleh PT PP Urban siap menerapkan konsep sharing economy untuk membeirkan kesempatan semua kalangan masyarakat untuk tinggal di hunian yang kece, sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan yang oke.

URBANtown merupakan hunian terjangkau yang berlokasi dekat dengan akses transportasi massal di sekitar Ibukota. Disempurnakan dengan fasilitas dan aplikasi URBAN Bizhub, membuat URBANtown lebih dari sekadar hunian terjangkau. Tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi yang powerful. Karena di dalamnya para penghuni akan mendapatkan fasilitas training dan seminar kewiarausahaan, gedung serbaguna, aplikasi jual-beli antar penghuni, sampai fasilitas pendanaan lunak yang berasal dari dana hibah dan CSR berbagai instansi.

Yang Bikin Bahagia Setengah Mati Nyatanya Bukan Menikahi Dambaan Hati, Tetapi Membahagiakan Orang-orang Yang Kamu Cintai

Siapa sangka kalau hal yang paling membahagiakan di dunia ini bukanlah jalan-jalan mewah keliling dunia, atau menikahi putri raja. Hal yang paling membahagaiakan di dunia adalah membuat oranglain berbahagia. Menyaksikan senyum yang mengembang dengan pigura tatapan hangat penuh kasih. Membahagiakan orang lain nyatanya adalah hal yang paling bisa membuat kita – manusia bisa lebih hidup bahagia.

Konsep ini merupakan sebuah pemikiran yang bisa dikatakan primitif. Karena adalah sebuah implementasi dari sifat natural manusia sebagai makhluk sosial yang senang berbagi. Ya! Kata kunci berikutnya adalah berbagi. Konsep saling berbagi pun yang bisa jadi menginspirasi para leluhur dan cendikiawan terdahulu untuk mengembangkan konsep ekonomi yang lebih praktikal.

Ini adalah asas yang kemudian diterjemahkan sebagai budaya gotong royong, eksistensi koperasi, dan Lembaga swadaya masyarakat. Hal-hal yang menurut saya ‘Indonesia Sekali’ ini yang seharusnya menjadi muara gaya hidup kita saat ini. Saat dimana semua kebutuhan primer begitu memaksa untuk dipenuhi. Mengapa kita tidak saling berbagi?

Berdayakan lingkungan terdekat. Karena bisa jadi tetangga kita adalah konsumen terbaik kita. Atau malah produsen kebutuhan atau jasa yang paling kita butuhkan. Era konektivitas tanpa batas seperti saat ini mempemudah hal itu untuk menjadi kenyataan. PP Urban sebagai pengembang hunian terjangkau milik pemerintah, sangat sadar dan concern akan potensi tersebut.

Bahwa dengan menghubungkan individu yang satu dengan yang lainnya dalam sebuah Kawasan terintegrasi, mampu menciptakan efek pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Ini adalah inovasi sosio-ekonomi yang dibungkus dalam pengembangan hunian terjangkau terbaik, PP Urban menyebutnya sebagai URBAN Bizhub. Bahkan lebih dari sekadar konsep pengembangan perkonomian berbasis lokal, URBAN Bizhub juga akan memfasilitasi para penggunanya dengan fasilitas training dan seminar kewiarausahaan, gerung serbaguna, aplikasi jual-beli antar penghuni, sampai fasilitas pendanaan lunak yang berasal dari dana hibah dan CSR berbagai instansi.

 

Kapan Sebaiknya Kamu Punya Rumah Sendiri?

Kamu tahu nggak? Kalau salah satu artikel atau konten yang paling populer di Internet adalah tulisan atau image yang membahas tentang jodoh dan pernikahan? Ya! Konten tentang percintaan, kegelisahan mereka yang tak kunjung menemui jodoh, putus cinta, dan sejenisnya sangat mudah menyebar di dunia maya. Bukannya tanpa alasan, mereka yang mengunsumsi konten seperti itu memang adalah yang mendominasi jagad dunia maya saat ini.

aerial view baru okt 2018

URBANtown Serpong

Generasi milenial, mungkin kamu adalah satu di antara jutaan yang mengaku demikian, adalah mereka yang lahir di rentang tahun 1981 – 1994. Jumlahnya tidak main-main, hampir setengah dari penduduk jagad dunia maya. Ini yang men-generate konten tersebut mudah viral. Karena isu dan kegelisahan yang dirasakan pun seragam.

Konten tentang pernikahan ini kian marak dan menjamur secara tidak langsung turut menyuburkan bisnis yang berkorelasi dengannya. Lihatlah betapa Bridestory selalu sukses menggelar pameran. Lihatlah betapa para key opinion leader menyesakki linimasa dengan tren pernikahan masa kini. Kultur kebarat-barat-an yang serba konsumtif dan lain sebagainya.

Padahal, jika mau sedikit berpikir lebih panjang, hal yang lebih urgent setelah menikah adalah tentang pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Di mana nanti kalian kelak akan membina rumah tangga, bagaimana kalian cekatan menyiapkan masa depan bersama, dan merencanakan hal-hal lainnya. Ya, kamu yang tengah membaca tulisan ini sudah saatnya mulai berpikir tentang rumah atau hunian idaman.

Sudah saatnya menghitung dan mengukur kemampuan diri untuk merencanakan tempat tinggal bersama dia. Jadi, kapan sebaiknya kamu punya rumah sendiri? Jawabnya adalah sekarang!

Hanya 43% Warga Jakarta Yang Punya Rumah Sendiri

Ya, benar! Ini adalah fakta yang ada. Hasil studi URBANtown dari PT PP Urban, hanya kurang dari setengah dari jumlah hunian yang ada di Jakarta yang berstatus hak milik. Sisanya, ada yang berupa kontrakan, kos-kosan, rumah sewa, rumah dinas, rumah keluarga/bersama, dan lain-lain. Ini merupakan fakta yang cukup menarik mengingat tingkat kepadatan di Jakarta yang cukup tinggi.

Rendahnya status kepemilikan rumah atau hunian di Ibukota menunjukkan ketidakseimbangan perekonomian dan pendapatan warganya. Secara tidak langsung, ini membuktikan bahwa kebanyakan warga Jakarta atau mereka yang bekerja di Jakarta belum mampu memiliki rumah sendiri di Jakarta. Ini merupakan isu multidimensi, karena bukan hanya menyoal tingkat pendapatan, tetapi juga melambungnya harga properti di kota-kota besar.

status kepemilikan rumah jakarta

Dibutuhkan lebih dari sekadar investasi besar untuk mewujudkan hunian terjangkau untuk semua kalangan masyarakat. Pemerintah sebagai regulator dituntut untuk lebih longgar merilis aturan kepemilikan rumah, perbankan diharapkan menjadi partner pembiayaan yang supportif, dan tentu saja para pengembang atau developer idelanya bisa mengakomodasi kebutuhan hunian yang setiap tahun selalu meningkat.