Ini Bukan Soal Jakarta Yang Lamban Berubah, Tapi Kita Yang Enggan Tergugah

Apakah Jakarta semakin menua dan tak lagi sanggup menina-bobokan kita hingga nyenyak? Apakah Jakarta sudah renta sehingga kita terpaksa mengais-ais sisa tenaganya? Tidak, Jakarta belum semenyedihkan itu. Jakarta masih dan akan terus tumbuh, kuat dan kian tegar menampung orang-orang yang apatis dan egosentris.

Di usianya yang akan menjadi setengah abad dalam delapan tahun ke depan, Jakarta merupakan kota yang sudah melewati fase matang. Fase pertumbuhan dan transformasi yang sudah dijejali ke perut Jakarta ini tengah melalui proses penceranaan. Hasil dan manfaatnya walau lambat namun tetap berarti untuk kita – para penduduk Jakarta.

Berbicara tentang penduduk Jakarta, artinya berbicara tentang jutaan orang yang berjibaku setiap harinya. Bukan hanya tentang mereka yang ber-KTP Monas, tetapi mereka yang juga berdesakkan setiap pagi dan sore hari. Menyambangi rezeki. Jakarta kian padat, penduduknya yang kian giat menggali Jakarta. Membuat Jakarta semakin mahal dan tak lagi terjangkau untuk warganya sendiri.

Ya! Keterjangkauan atau affordability di Jakarta telah berubah menjadi barang mewah. Mengapa demikian? Karena faktanya, lebih banyak warga Jakarta yang mendamba keterjangkauan dibandingkan yang tidak. Faktanya setiap kali ada midnite sale atau diskon sepatu branded murah, selalu padat pengunjung.

Faktanya lagi, hanya kurang dari 45% orang di Jakarta yang mampu memiliki rumah sendiri. Sisanya? NGONTRAK! Faktanya lagi, akan nyaris mustahil menemukan harga rumah di bawah Rp300 juta di Jakarta. Ini adalah deretan fakta yang sesungguhnya bukan lagi menyoal kondisi Jakarta, tetapi kondisi mereka yang ada di Jakarta – kita yang terlena. Nyaris lupa untuk mengimbangi kenyataan dan impian.

status kepemilikan rumah jakarta

Jakarta – maksud saya orang-orang Jakarta sudah sepatutnya mulai beralih-pikir ke gaya hidup yang lebih praktis. Bukan lagi menganggap hidup di Jakarta dengan rumah berhalaman luas menjadi sebuah impian paling luhur. Orang-orang zaman now sudah saatnya tergugah dan memilih hunian vertikal sebagai sarana pemenuhan kebutuhan papan.

URBANtown hadir untuk memenuhi kebutuhan hunian vertikal terjangkau untuk Jakarta. Untuk menolong Jakarta dari kepadatan yang kian menyesakkan. URBANtown dikembangkan dengan konsep keterjangkauan yang cocok untuk semua kalangan. Berlokasi yang membuat para pemiliknya mudah keluar-masuk pusat kota, URBANtown merupakan hadiah terbaik untuk Jakarta, untuk kita semua.

Apa Negara Paling Dermawan, Baik Hati, dan Gemar Menolong di Dunia? Indonesia!

Well, buat saya ini bahkan sangat mengejutkan! Bagaimana tidak? Untuk ketiga kategori tersebut, Indonesia adalah yang terbaik. Bagaimana bisa di dunia ini ada negara yang penduduknya begitu baik? Yang penduduknya paling dermawan, paling gemar membatu satu sama lain, dan paling baik hati sekaligus?

Jika bukan karena kekayaan kultur yang turun-temurun, lantas karena apalagi? Indonesia nyatanya lebih baik dari Australia, Inggris, bahkan Amerika Serikat. Ada tiga kategori yang dijadikan penilaian dalam survey tersebut, adalah persentase penduduk suatu negara untuk menolong orang asing, kedua menyoal kegemaran memberikan donasi, dan terakhir waktu yang diberikan untuk kegiatan sosial.

Ketiga kategori tersebut kemudian dikalkulasikan untuk mendapatkan rasio khusus. Rasio yang menjadi World Giving Index atau Indeks Memberi di Dunia. Indonesia, negara berkembang dari Asia Tenggara mamu mengungguli puluhan negara maju dan berkembang lain untuk menduduki peringkat pertama dalam survey tersebut.

Ya! Nyatanya memang demikian. Keramah-tamahan Indonesia yang sudah termasyhur dilegitimasi dengan hasil survey ini. Bahwa kita – orang Indonesia bukan hanya gemar melempar senyum dan sapa, tetapi juga hobi memberi dan membantu sesama. Ini adalah hal yang luar biasa. Ini merupakan sumber daya dan potensi besar untuk membawa bangsa ini kian besar.

indonesia, most giving country

Konsep saling memberi ini yang sedikit banyak menjadi inspirasi URBANtown dalam mengembangkan proyek-proyeknya. Berbekal fasilitas URBAN Bizhub, semangat saling berbagi mendapatkan perhatian khusus. Mereka yang nantinya menjadi user aplikasi ini akan dapat menikmati hidup dengan lebih mudah. Karena aplikasi ini akan menghubungkan apa saja yang kamu cari di lingkungan terdekat.

User URBAN Bizhub juga bisa menjadikan platform ini sebagai sarana promosi usaha mandiri. PT PP Urban sebagai developer URBANtown juga akan memfasilitasi para penggunanya dengan fasilitas training dan seminar kewiarausahaan, gedung serbaguna, aplikasi jual-beli antar penghuni, sampai fasilitas pendanaan lunak yang berasal dari dana hibah dan CSR berbagai instansi.

Ini Alasan Mengapa Punya Rumah Di Jakarta Memang Hanya Mimpi

Sebuah survey menunjukkan fakta bahwa pendapatan rata-rata para milenial di Jakarta atau kota-kota besar berada di kisarang angka Rp6 juta sampai Rp7 jutaan per bulan. Ini bisa jadi merupkana sebuah prestasi, bagi sebagian yang baru merasai dinamisnya dunia kerja, serunya menjejaki karir, dan menjadi seorang professional.

Namun, pada saat yang sama, ini merupakan sebuah delusi yang hampa-asa. Mengapa demikian? Karena kebanyakan angkatan kerja tersebut, belum mampu menempatkan masa depan secara proporsional. Mereka yang lazim kita sebut sebagai milenial, mengutamakan kehidupan sosial dan gaya hidup sebagai sebuah hal yang begitu penting. Lebih penting dibanding usaha untuk memiliki hunian sendiri.

9.png

Ini adalah ironi. Karena mau tidak mau, jika paradigma itu terus mengakar, akan makin sedikit para pekerja di kota-kota besar yang mampu memiliki rumah sendiri. Seperti studi yang dirilis oleh URBANtown by PT PP Urban, tentang status kepemilikan rumah atua hunian di Jakarta, menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari jumlah hunian di Jakarta berstatus sewa atau sejenisnya.

Ada lebih dari 56% hunian di Jakarta yang statusnya bukan dimiliki oleh penghuninya. Variasianya beragam, paling banyak didominasi oleh status sewa/kos/kontrak. Sisanya ada yang berstatus rumah dinas, rumah keluarga/rumah bersama dan lain sebagainya. Fakta ini sangat mungkin untuk berubah beberapa tahun mendatang. Angka kepemilikan rumah akan semakin menurun seiring dengan kenaikan harga properti yang tinggi.

Kanaikan harga hunian yang tidak mampu diimbani dengan kenaikan pendapatan warganya. Kalau kita berani ambil asumsi harga hunian paling terjangkau di Jakarta adalah Rp350 juta, dengan rata-rata gaji para first worker adalah Rp7 juta, ini sama saja dengan memupuk angan dan mimpi untuk memiliki hunian sendiri di Ibukota. Jadi, ngontrak for lyfe, uh?

Lelah Dengan Isi Lini Masa Yang Isinya Politik Melulu? Ini Inti Masalah Kita Sebenarnya

Siapa yang mulai jengah dengan lini masa di sosial media yang mulai tidak menyenangkan lagi untuk dinikmati? Siapa yang rasanya lelah dengan berkeliarannya konten-konten beruara negative yang isinya sangat pantas dipertanyakan? Atau siapa yang malah sudah memutuskan untuk mesenyapkan beberapa akun kerabat yang sudah ‘mulai berubah’?

Isu pencitraan, hoaks, persekusi, penistaan, saling hujat, dan membenarkan kelompok masing-masing memang sudah saatnya berseliweran di jagad dunia maya. Hal ini tidak bisa kita kendalikan sendiri. Karena Google – katakanlah sebagai Sang Empunya Internet, memang sudah lama memiliki mekanisme untuk mengumpani lini masa kita dengan hal-hal yang populer (dan sesuai dengan interest kita).

Kalau boleh mengambil kesimpulan sederhana, semua diskusi tak bertuan ini pada dasarnya berujung pada satu muara yang sama. Adalah soal kesejahteraan dan kemandirian ekonomi setiap orang. Karena siapapun pemimpin kita nanti, hal yang paling utama adalah yang mampu mengakomodasi kebutuhan kita sebagai rakyat. Kebutuhan jasmani dan rohani.

Menyoal kesejahteraan, berarti berbicara tentang kebutuhan primer setiap individu. Bagaimana kita semua dituntut untuk mampu memenuhi sandang, pangan, dan papan dalam satu waktu. Bagaimana caranya agar pemenuhan di luar tiga hal itu, seperti kebutuhan gaya hidup, sosilasisai, eksistensi diri dan lingkungan, tetap terjamin kehadirannya.

Konnikova-Politics-Personalities

Bagaimana jika ada konsep ekonomi terbaru yang memungkinkan kamu untuk mendapatkan semua kebutuhan itu dalam satu usaha sederhana? Bukan kah itu brilian? Nyatanya sekarang ada! URBANtown yang dikembangkan oleh PT PP Urban siap menerapkan konsep sharing economy untuk membeirkan kesempatan semua kalangan masyarakat untuk tinggal di hunian yang kece, sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan yang oke.

URBANtown merupakan hunian terjangkau yang berlokasi dekat dengan akses transportasi massal di sekitar Ibukota. Disempurnakan dengan fasilitas dan aplikasi URBAN Bizhub, membuat URBANtown lebih dari sekadar hunian terjangkau. Tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi yang powerful. Karena di dalamnya para penghuni akan mendapatkan fasilitas training dan seminar kewiarausahaan, gedung serbaguna, aplikasi jual-beli antar penghuni, sampai fasilitas pendanaan lunak yang berasal dari dana hibah dan CSR berbagai instansi.

Yang Bikin Bahagia Setengah Mati Nyatanya Bukan Menikahi Dambaan Hati, Tetapi Membahagiakan Orang-orang Yang Kamu Cintai

Siapa sangka kalau hal yang paling membahagiakan di dunia ini bukanlah jalan-jalan mewah keliling dunia, atau menikahi putri raja. Hal yang paling membahagaiakan di dunia adalah membuat oranglain berbahagia. Menyaksikan senyum yang mengembang dengan pigura tatapan hangat penuh kasih. Membahagiakan orang lain nyatanya adalah hal yang paling bisa membuat kita – manusia bisa lebih hidup bahagia.

Konsep ini merupakan sebuah pemikiran yang bisa dikatakan primitif. Karena adalah sebuah implementasi dari sifat natural manusia sebagai makhluk sosial yang senang berbagi. Ya! Kata kunci berikutnya adalah berbagi. Konsep saling berbagi pun yang bisa jadi menginspirasi para leluhur dan cendikiawan terdahulu untuk mengembangkan konsep ekonomi yang lebih praktikal.

Ini adalah asas yang kemudian diterjemahkan sebagai budaya gotong royong, eksistensi koperasi, dan Lembaga swadaya masyarakat. Hal-hal yang menurut saya ‘Indonesia Sekali’ ini yang seharusnya menjadi muara gaya hidup kita saat ini. Saat dimana semua kebutuhan primer begitu memaksa untuk dipenuhi. Mengapa kita tidak saling berbagi?

Berdayakan lingkungan terdekat. Karena bisa jadi tetangga kita adalah konsumen terbaik kita. Atau malah produsen kebutuhan atau jasa yang paling kita butuhkan. Era konektivitas tanpa batas seperti saat ini mempemudah hal itu untuk menjadi kenyataan. PP Urban sebagai pengembang hunian terjangkau milik pemerintah, sangat sadar dan concern akan potensi tersebut.

Bahwa dengan menghubungkan individu yang satu dengan yang lainnya dalam sebuah Kawasan terintegrasi, mampu menciptakan efek pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Ini adalah inovasi sosio-ekonomi yang dibungkus dalam pengembangan hunian terjangkau terbaik, PP Urban menyebutnya sebagai URBAN Bizhub. Bahkan lebih dari sekadar konsep pengembangan perkonomian berbasis lokal, URBAN Bizhub juga akan memfasilitasi para penggunanya dengan fasilitas training dan seminar kewiarausahaan, gerung serbaguna, aplikasi jual-beli antar penghuni, sampai fasilitas pendanaan lunak yang berasal dari dana hibah dan CSR berbagai instansi.

 

Kapan Sebaiknya Kamu Punya Rumah Sendiri?

Kamu tahu nggak? Kalau salah satu artikel atau konten yang paling populer di Internet adalah tulisan atau image yang membahas tentang jodoh dan pernikahan? Ya! Konten tentang percintaan, kegelisahan mereka yang tak kunjung menemui jodoh, putus cinta, dan sejenisnya sangat mudah menyebar di dunia maya. Bukannya tanpa alasan, mereka yang mengunsumsi konten seperti itu memang adalah yang mendominasi jagad dunia maya saat ini.

aerial view baru okt 2018

URBANtown Serpong

Generasi milenial, mungkin kamu adalah satu di antara jutaan yang mengaku demikian, adalah mereka yang lahir di rentang tahun 1981 – 1994. Jumlahnya tidak main-main, hampir setengah dari penduduk jagad dunia maya. Ini yang men-generate konten tersebut mudah viral. Karena isu dan kegelisahan yang dirasakan pun seragam.

Konten tentang pernikahan ini kian marak dan menjamur secara tidak langsung turut menyuburkan bisnis yang berkorelasi dengannya. Lihatlah betapa Bridestory selalu sukses menggelar pameran. Lihatlah betapa para key opinion leader menyesakki linimasa dengan tren pernikahan masa kini. Kultur kebarat-barat-an yang serba konsumtif dan lain sebagainya.

Padahal, jika mau sedikit berpikir lebih panjang, hal yang lebih urgent setelah menikah adalah tentang pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Di mana nanti kalian kelak akan membina rumah tangga, bagaimana kalian cekatan menyiapkan masa depan bersama, dan merencanakan hal-hal lainnya. Ya, kamu yang tengah membaca tulisan ini sudah saatnya mulai berpikir tentang rumah atau hunian idaman.

Sudah saatnya menghitung dan mengukur kemampuan diri untuk merencanakan tempat tinggal bersama dia. Jadi, kapan sebaiknya kamu punya rumah sendiri? Jawabnya adalah sekarang!

Hanya 43% Warga Jakarta Yang Punya Rumah Sendiri

Ya, benar! Ini adalah fakta yang ada. Hasil studi URBANtown dari PT PP Urban, hanya kurang dari setengah dari jumlah hunian yang ada di Jakarta yang berstatus hak milik. Sisanya, ada yang berupa kontrakan, kos-kosan, rumah sewa, rumah dinas, rumah keluarga/bersama, dan lain-lain. Ini merupakan fakta yang cukup menarik mengingat tingkat kepadatan di Jakarta yang cukup tinggi.

Rendahnya status kepemilikan rumah atau hunian di Ibukota menunjukkan ketidakseimbangan perekonomian dan pendapatan warganya. Secara tidak langsung, ini membuktikan bahwa kebanyakan warga Jakarta atau mereka yang bekerja di Jakarta belum mampu memiliki rumah sendiri di Jakarta. Ini merupakan isu multidimensi, karena bukan hanya menyoal tingkat pendapatan, tetapi juga melambungnya harga properti di kota-kota besar.

status kepemilikan rumah jakarta

Dibutuhkan lebih dari sekadar investasi besar untuk mewujudkan hunian terjangkau untuk semua kalangan masyarakat. Pemerintah sebagai regulator dituntut untuk lebih longgar merilis aturan kepemilikan rumah, perbankan diharapkan menjadi partner pembiayaan yang supportif, dan tentu saja para pengembang atau developer idelanya bisa mengakomodasi kebutuhan hunian yang setiap tahun selalu meningkat.

 

Menggamit Nilai, Merengkuh Asa #3 -end

Apa yang saya rasakan malam setelah seharian dihantam games-games fisik dan mental? Berantakan!

Badan rasanya seperti tidak bertulang. Agak sedikit demam, saya menemukan lebam di lengan atas tangan kanan. Entah karena apa, namun rasanya cukup nyeri. Tapi rasa itu dikalahkan keok oleh rasa lelah tak terperi.

Saya tidak kemudian manja dan menghiraukan lelah fisik itu. Mental saya masih prima. Saya masih takjub dan tak bosan mengulang-ulang memori bagaimana kami menyelesaikan semua games dengan cukup baik. Saya puas sekaligus waswas. Apa yang akan kami hadapi esok hari?

Tim Trainer tentunya sudah menyiapkan sajian khusus di hari berikutnya. Kami diminta untuk survive sekaligus menyumpulkan laba. Berbekal uang lima puluh ribu, kami harus berhasil membeli jatah makan siang untuk delapan orang ditambah harus mengusahakan laba dengan bekal 12 botol air mineral.

Saya didaulat untuk tidak sama sekali membantu tim saya dalam tantangan ini. Karena saya harus menggantikan posisi Fasilitator yang kebetulan berhalangan hadir dan harus kembali ke Jakarta. Awalnya tim kami membuka diri untuk kongsi dengan tim lain, namun setelah mermusyawarah, kami memutuskan untuk jalan sendiri. Melihat dan menyaksikan langsung bagaimana tim kami mengusahakan laba, memutuskan untuk menunda makan siang, dan bolak-balik ke taman rekreasi membuat saya yakin bahwa kami semua tulus. Sama-sama ingin memberikan yang terbaik dalam segala keterbatasan.

Saya sebisa mungkin mempraktekkan brief yang diberikan. Untuk memberikan arahan dan menjaga agar semua kegiatan tim masih dalam koridor aman. Saya yang hanya bisa mengamati dari jauh dibuat takjub dengan effort yang tim kami berikan. Hasilnya? Dari target yang cukup pesimistis, kami berhasil mengumpulkan dua kali lipatnya! Ditambah dengan sedikit sedekah kepada mereka yang membutuhkan.

Rasanya begitu melegakan. Menenangkan sekaligus memenangkan. Saya bangga luar biasa dengan apa yang telah mereka lakukan.

Penutup hari itu, adalah sebuah rasa ikhlas yang meringankan hati. Saya tidak peduli seberapa besar laba yang diraih tim lain. Bagaimana keren dan modernnya analisa bisnis yang direncanakan dan diterapkan. Yang saya tahu, saya bangga dengan tim sendiri. Bangga luar biasa.

Namun, hal yang paling menakjubkan justru terjadi di malam harinya. Saat ternyata salah satu dari tim kami muncul ke permukaan. Berbicara lantang di depan kelas. Dengan spontan dan raut wajah sarat keseriusan. Ini bisa jadi adalah hal biasa, namun bagi kami. Ini laur biasa. Karena pelakunya adalah teman sejawat kami yang pendiam bukan main. Yang mengaku punya masalah komunikasi dengan dirinya sendiri. Saya merinding haru saat itu.

Hari berikutnya.

Sekujur badan masih tidak menentu. Tidur salah, bangun lebih salah lagi. Ini adalah kombinasi lelah fisik dan mental yang juara.

Agenda hari itu adalah fasilitasi dan internalisasi nilai-nilai perusahaan. Saya yang dahulu hanya menganggap nilai PP BID (Peduli, Profesional, Bersyukur, Integritas, dan Disiplin) adalah lip service belaka, dibuat takjub lewat sesi ini.

Setengah bingung, saya memaksakan diri memfasilitasi sesi internalisasi nilai perusahaan. Duduk melingkar di lantai kelas, saya membukanya dengan pertanyaan sederhana. “Hilankan segala sesuatu tentang PPBID, yang ingin kita bahas di sini adlaah hal apa yang paling sulit yang lo temuin selama kerja di Urban?”

Jawaban yang mengudara pun beragam. Ada yang merasa sulit sekali masuk dan pulang kerja tepat waktu, ada yang punya masalah dengan eksistensi diri, ada yang merasa kurang lekat dengan Tuhan, ada yang enggan memberikan yang terbaik, dan tentu saja ada yang punya masalah dengan kepercayaan diri.

Sesi ini mengalir landai. Semuanya nampak terbawa suasana. Letupan kepedulian satu sama lain terasa hangat dan kencang. Menyelinap di antara sahutan komentar satu sama lain.

OPB pun ditutup dengan seremoni lagi. Berdiri melingkari api unggun yang membelah dingin. Ini adalah sesi inspirasi. Microphone dipaksa memutar dan menjajal suara semua orang.

Sebuah suara bass yang berat terdengar mantap bercerita. Tentang bagaimana ia dulu, sedari kecil, punya masalah dengan dirinya sendiri. Tentang bagaimana ia melewati masa-masa kelam itu. Tentang sulit bagi dirinya untuk menunjukkan eksistensi diri. Dan terpaksa menggelayut dalam diam serta idealisme maya. Ia menutup kisahnya dengan ucapan yang membuat saya tertegun. Ia bilang, ia mendapatkan sesuatu dari sesi internalisasi kemarin. Ia mendapat motivasi yang telah lama ia cari. Ia yang telah lama mendamba hal ini, merasa siap untuk berbenah diri.

Walau ia tidak secara gamlang menyebut tim kami, saya yakin. Kami lah yang ia maksud. Kami yang secara tidak sengaja telah membantunya bangkit. Membantunya lepas dari suara-suara parau dan mulai untuk berhenti mengigau. Saya terenyuh. Saya tergerak. Dan saya berterimakasih kepada diri saya sendiri.

Saat ada suara berat lain yang mulai parau. Menahan tangis yang memaksa segera pecah. Saya benci momen seperti itu. Spontan dada ini pun sesak. Mata saya ikut panas. Saya tidak menyangka sesi ini akan cukup intens dan dramatis. Ada satu dua teman yang bercerita pilu. Se-pilu isak tangisnya saat itu. Saya dipaksa untuk melakukan refleksi, berkontemplasi atas kisah yang diuntai itu.

Sekali lagi. Ini adalah kejutan buat saya.

OPB ini memaksa saya menggamit nilai seraya merengkuh asa.

(satu hal yang membuat saya merasa perlu berbagi tentang cerita ini adalah, karena saya menyaksikan sendiri bagaiaman perubahan minor yang terjadi di diri kami. tentang kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang kini ter-eskalasi. kemudian terjemahan dan kejawantahan nilai-nilai perusahaan yang secara magis dapat ter-internalisasi)

Menggamit Nilai, Merengkuh Asa #2

Yang paling spesial dari OPB hari kedua adalah …

Sesi pagi!

Hanya Tuhan yang bisa menggapai tangis saya di dalam sanubari!

Usai sesi baris-berbaris (yang membuat saya cukup bosan sekaligus kangen dengan masa-masa ikutan training center anggota Paskibra) dengan materi sederhana. Kami disambut dengan instruksi yang kemudian membuat saya lebih nyeri menghadapi hari! Kami dipaksa untuk berlari mengelilingi area parkir tiga puluh kali!

Mungkin bagi mereka para penggila olahraga, hal dmeikian adalah remeh-temeh. Tapi bagi saya? Ini adalah permulaan yang bikin jiwa naik ke atas awan. Walau hanya sanggup belasan kali berlari dan memutuskan untuk berlari kecil (atau berjalan?), saya merasa luar biasa lelah. Dan oh tentu saja Tuhan, sesi lari tidak berhenti begitu saja. Kami pun diminta melakukan beberapa gerakan fisik lain yang yaaaaaa … sangat mampu membuat napas timbul-tenggelam setiap satu setengah detik.

Namun, saya tetap berusaha untuk positif. Mengutuk hati untuk lebih siap (menghadapi sesi fisik) esok hari.

Menjamu jemu dari para tamu

Hari kedua banyak dihabiskan di kelas. Maraton, kami dihujani materi-demi-materi. Paling tidak ada empat sesi, yang masing-masing sesi dibanderol dengan durasi dua jam. Berbekal pengalaman sesi materi hari sebelumnya, saya menyiapkan diri untuk lebih membuka diri. Untuk menyerap sebanyak mungkin materi dari para “mantri”.

Saya cukup berhasil. Walau tidak banyak mendapatkan penjelasan berarti, saya bisa menghimpun beberapa inspirasi. Ini adalah kemajuan 🙂

Di sesi sore, saya mengerahkan konsentrasi lebih dalam. Materi Financial Non Financial yang memang saya nanti-nanti dibawakan dengan sangat memadai. Jawaban dan penjelasan pun mengular tanpa hingar-bingar.

Menjelang malam para Trainer kembali mengisi. Saya sempat gemas beradu argumen tentang peraturan yang diberikan. Saya yang memang sedari awal tidak menaruh ekspektasi tinggi, semakin bulat menyimpulkan posisi. Bahwa saya akan sulit mendapatkan inspirasi dari mereka yang katanya ahli memberikan motivasi.

Sudahlah …

Sebelum menutup hari, Trainer lagi-lagi berkreasi. Saya dan beberapa Ketua Kelompok lain diminta bertukar posisi. Ya, kami diminta untuk memimpin kelompok lain. Untuk semua kegiatan besok dan seterusnya. Sebuah ide yang cukup berani. Mereka bilang, ini adalah representasi dinamika organisasi, dimana setiap orang harus selalu siap memimpin atau dipimpin oleh siapapun. Fairly true.

Jadi lah saya memiliki kelompok baru. Tujuh pria botak (delapan dengan saya yang juga botak) dengan latar belakang berbeda-beda. Namun satu bahasa, yaitu Bahasa Jawa!

Redo, rekan sekantor dari divisi Legal, Arif dan Ardhi yang juga rekan satu kantor saya, Pradana yang juga (ternyata ?) rekan sekantor, kemudian Rohmad, Farid, dan Zikry  yang ketiganya adalah ditempatkan di proyek.

Tidak sulit menjalin kemistri bersama mereka. Mungkin karena sama-sama botak. Haha!

Hari berikutnya kami dijanjikan untuk seharian berkegiatan di luar ruangan. Sedari pagi, kami kembali diganjar materi baris-berbaris. Kali itu, nampaknya Si Pelatih sudah sadar, bahwa saya sudah cukup familiar dengan semua yang diajarinya. Sesi fisik masih dijalankan. Namun ternyata tidak sehebat pagi sebelumnya. Ini karena setelahnya, kami sudah disiapkan menu latihan fisik lainnya.

Ada sebelas games yang tersaji rapih untuk kami. Tidak semuanya bernuansa fisik, namun tetap saja, cukup menantang.

Jujur saja, dari satu games ke games lain. Saya merasa seperti semakin akrab dengan teman-teman sekelompok saya. Ini adalah hal yang cukup unik. Masing-masing dari kami nampak ringan berinteraksi. Bekerjasama menyelesaikan tantangan. Kecuali kendala bahasa, saya tidak menemukan kesulitan berarti berinteraksi dan berbagi strategi bersama mereka. Ohya, nama kelompok kami adalah Beton Syukur.

Yang bisa jadi paling monumental adalah saat kami menutup sesi tersebut dengan tantangan Trust Fall. Redo, yang menjadi maskot di kelompok kami, yang juga kebetulan dianugerahi bobot badan berlebih, sukses melakukan trust fall di percobaan pertama! Kami sekelompok, dengan yakin menyambut Redo yang jatuh bebas dari ketinggian dua meter!

Ardhi, yang memang (hampir selalu) perlu disokong rasa percaya dirinya, pun berhasil menaklukkan tantangan ini. Walau harus melewati tiga kali percobaan trust fall, Ardhi membuktikan diri mampu dan bisa diyakinkan. Ini juga luar biasa!

Walau dengan peralatan dan metode sederhana, games-games yang disiapkan menurut saya mampu menciptakan semangat kerja tim yang mumpuni. Ini adalah prestasi. Karena kami yang sebelumnya menyemangati diri “yang penting bisa selesai”, pada akhirnya mengubah diri, menjadi menikmati setiap tantangan yang diberikan. Seraya memberikan usaha optimal dengan balutan canda serta optimisme kelompok yang menguar lewat hentakkan kaki dan yelyel kelompok kami.

Oh, satu hal lagi. Kami juga ditemani Fasilitator yang cukup (atau sangat?) koperatif. David, kokoh-kokoh kekar yang di akhir sesi tidak luput dari keisengan kami. Ya, hanya kelompok kami yang berhasil membuat Fasilitator basah kuyup tercebur kolam! 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

 

 

Menggamit Nilai, Merengkuh Asa #1

Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya kebingungan memilih judul untuk tulisan saya. Namun kali ini, saya kembali mengalaminya. Saya tidak dapat menemukan frasa yang tepat, yang secara manis menggambarkan isi dari tulisan saya kali ini.

Ohya, kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya ikutan training. Judulnya sih Orientasi Pegawai Baru (OPB), tapi kalau dilihat dari komposisi pesertanya, yaaa nggak baru-baru banget juga. Malah ada yang sudah tiga tahun bekerja. Namun sudahlah, toh bagi saya, inti dari training ini kan bukan cuma tentang pengenalan perusahaan, tapi internalisasi nilai perusahaan.

Baiklah.

Awal menerima undangan untuk mengikuti kegiatan OPB, saya cukup excited. Karena di perusahaan sebelumnya, karyawan pro hire (professional hiring) tidak diwajibkan ikut serta dalam kegiatan semacam ini. Hanya mereka yang berstatus sebagai management trainee atau on the job training yang wajib partisipasi.

Dari cerita beberapa kolega, acara seperti itu dirancang cukup maskulin. Dibimbing oleh Anggota Militer dengan tata-cara kemiliteran yang yaaaaa, begitu deh 🙂

Mendekati hari OPB, saya iseng meng-google-ing profil Lembaga Trainer yang akan menjadi coach saya selama masa OPB, namanya SIP Institute. Yaaah, sesungguhnya sih ini bukan sekadar iseng. Saya memang merasa perlu untuk mengetahui sejauh mana orang-orang yang akan menjadi fasilitator saya selama lima hari. Saya ingin tahu bagaimana metodenya, saya ingin tahu sejauh mana kredibilitas dan pengalaman mereka. Sayang sekali, saya tidak menemukan satupun informasinya di Google. Walau telah mencobanya berulang kali dengan beberapa kombinasi kata kunci berbeda. Sayang sekali.

Dari situ, saya menurunkan ekspektasi saya. Tidak ingin berharap banyak dan bertekad untuk ikutan OPB semata-mata hanya karena ini adalah sebuah prosedur. Salah satu wujud kepatuhan saya terhadap perusahaan.

Kamis (16/11) pagi, belasan peserta lain sudah siap di kantor. Menggembol satu dua tas berisi peralatan menginap masing-masing. Tepat pukul tujuh, bis pun berangkat. Menuju pusat pelatihan perusahaan. Sebuah hotel (atau villa?) yang dijadikan sebagai corporate university. Salah satu trainer menginisiasi perkenalannya dengan sebuah games sederhana. Selama perjalanan, saya batal tidur.

Sesi motivasi yang sekadar mengisi situasi

Tiba di lokasi, panitia (yang kebetulan juga adalah sejawat kantor) mengarahkan kami untuk masuk melalui pintu samping hotel. Ndilalah, sudah ada seorang tukang cukur yang menyeringai manja, berdiri setengah-bangga memegang alat cukur beralas tikar putih. Ya! Kami semua harus digunduli!

Ujaran kesal dan keluhan sahut-menyahut. Saya yang memang sudah memutuskan untuk mengikuti OPB dengan apa adanya, merasa datar. Biasa saja. Yang saya pikirkan saat itu adalah, well if  this is the way, this is the way. Saya juga dengan ringan hati digunduli karena My Boy pun baru saja digunduli 🙂 Jadi, saya tidak akan gundul sendirian di rumah 😉 — Seingat saya, terakhir kali saya digunduli seperti ini adalah saat dulu menjadi anggota Paskibra di Madrasah Aliyah. Mungkin sekitar tahun 2005. Dua belas tahun lalu, dan sensasinya masih sama. Kepala terasa ringan dan semilir angin terasa lebih manja menyapu kulit kepala 😀

Seremoni pembukaan menjadi menu yang juga terasa mengalir begitu saja. Tidak banyak yang mampu menyulut memori saya untuk melek. Pun sesi sambutan dari beberapa pejabat perusahaan.

Kami kemudian digiring masuk kelas. Nama meja dan seminar kit sudah nampak siap digagahi. Sesi pertama diisi oleh Pak Direktur Utama. Sebagian materinya sudah kami semua hapal. Awalau ada satu dua yang cukup baru.

Saya tidak mendapatkan jawaban presisi saat mengajukan pertanyaan ke Pak Dirut. Sayang sekali. Begitupun di sesi dua. Pak Pejabat yang semestinya menguasai materi nampak lebih senang menjam peserta lain dengan jawaban-jawaban teknis yang sehari-hari. Saya kembali gagal mendapatkan jawaban presisi. Padahal, menurut saya, untuk level seperti Bapak-bapak itu, saya lebih mengharapkan materi dan jawaban yang lebih taktis dan strategis alih-alih pidato yang isinya informasi sehari-hari.

Sudahlah.

Menjelang gelap, Tim Trainer mengambil alih. Membagi kami menjdai beberapa kubu. Saya didaulat menjadi pemimpin kelompok. I was just, okay let’s deal with it. Perasaan saya masih datar. Kami diminta merumuskan identitas kelompok dan diberikan atribut kelompok.

Saya cukup terkejut dengan inisiatif dan semangat kelompok saya untuk menyiapkan dan menyelesaikan tugas pertama. Saya diberi saran untuk membagi tugas dan mendelegasikannya kepada beberapa anggota kelompok. A pretty good move. Kami nampak cukup kompak menampilkan identitas kelompok, menyanyikan yelyel, dan memeragakan solusi egg project yang setengah berhasil 🙂

Sebelum mengakhiri hari, Tim Trainer memberikan materi motivasi. Isinya kurang-lebih tentang bagaimana seharusnya kita memiliki tujuan hidup. Mereka menyebutnya sebagai purpose. Saya menyimaknya. Mencatat satu dua kalimat yang menarik.

Masih biasa saja.